Kementan Perkuat Stabilitas Harga Telur, Asosiasi Pastikan Kondisi Peternak Tetap Kondusif

oleh -49 Dilihat

Kanalberita.id, Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus mempercepat langkah stabilisasi subsektor peternakan ayam petelur di tengah fluktuasi harga telur di sejumlah daerah.

Pemerintah menegaskan upaya ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan pemerintah memahami tekanan yang dihadapi peternak akibat fluktuasi harga telur di tingkat produsen.

“Kami memahami tekanan yang dirasakan peternak layer rakyat akibat fluktuasi harga telur. Arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut dia, Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional.

“Kami terus mendorong penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, hilirisasi produk peternakan, serta optimalisasi pemanfaatan telur pada berbagai program pemenuhan gizi masyarakat. Langkah ini penting agar harga di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” katanya.

Baca Juga :  Paket Sembako Dan Daging Beku Tersedia Di Pasar Murah Ramadhan OKU  

Agung menambahkan, Indonesia memiliki kapasitas produksi telur yang kuat sebagai penopang ketahanan pangan nasional sehingga perlu dijaga melalui penguatan tata niaga dan distribusi.

“Ini harus kita jaga bersama. Produksi yang kuat adalah modal penting bangsa, sehingga yang perlu dilakukan adalah memperkuat tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” tambahnya.

Di tengah dinamika harga tersebut, sejumlah asosiasi peternak memastikan kondisi di lapangan masih kondusif. Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT Blitar, Eti, mengatakan aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga yang telah disepakati bersama.

Menurut dia, harga telur saat ini memang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya pasokan produksi di tengah melemahnya daya serap pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga :  Polres OKU Bersama Stakeholder Perbaiki Jalan Rusak

“Kondisi peternak ayam petelur di Blitar saat ini secara umum masih dalam situasi yang kondusif. Aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga harmoni yang telah disepakati bersama,” ujar Eti saat dikonfirmasi.

Ia juga menyebut sejumlah asosiasi peternak dalam rembuk nasional pada 2 Mei 2026 sepakat menjaga komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah.

Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi. Ia mengatakan peternak di wilayah Kendal dan sekitarnya terus berupaya menjaga stabilitas di tingkat lapangan.

“Peternak layer di wilayah Kendal dan sekitarnya tetap berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif, termasuk dengan menjaga harga jual telur agar tidak terus mengalami penurunan,” ujar Suwardi.

Di Kabupaten Magetan, pemerintah daerah mulai memperkuat langkah penanganan melalui koordinasi lintas perangkat daerah. Salah satu upaya yang dibahas adalah peningkatan penyerapan telur melalui penambahan menu berbasis telur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, pemerintah juga terus memperkuat hilirisasi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya serap hasil produksi peternak.

Baca Juga :  Ribuan Pengunjung Berwisata di Gua Putri di Tahun Baru

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, mengatakan hilirisasi menjadi strategi penting dalam menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak.

“Kami terus mendorong pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan agar pasar menjadi semakin luas. Hilirisasi akan membantu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak,” kata Makmun.

Menurut dia, peningkatan konsumsi protein hewani juga menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan subsektor peternakan nasional.

“Kami optimistis konsumsi telur nasional masih sangat potensial untuk terus ditingkatkan. Dengan penguatan edukasi gizi dan perluasan pemanfaatan produk peternakan dalam berbagai program pemerintah, maka peluang pasar ke depan akan semakin besar,” pungkas Makmun.

Kementerian Pertanian memastikan akan terus mengawal stabilisasi subsektor peternakan melalui penguatan distribusi, serapan pasar, hilirisasi, dan peningkatan konsumsi protein hewani agar peternak rakyat tetap kuat dan subsektor peternakan nasional semakin berdaya saing.

No More Posts Available.

No more pages to load.