Jakarta—Hadiprana Gallery jadi momentum Istimewa bagi keluarga Irjen (Pol) Nunung Syaifuddin. Bagaimana tidak, sang anak, Vanindra menggelar pameran tunggal lukisannya bertajuk Adikarya Vanindra-Gateway to Happiness. Vanindra, saat ini berusia 20 tahun dan merupakan individu dengan kondisi spektrum autisme, yang memiliki cara berpikir dan kepekaan unik.
Dalam grand opening pameran tunggal Adikarya Vanindra, sang ayah Irjen (Pol) Nunung Syaifuddin mengaku terkejut dengan bakat anaknya, Jalu, panggilan akrab Vanindra. “Ini sesuatu yang luar biasa dan saya tidak menduga karena mungkin saya terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ternyata saya punya anak yang luar biasa. Karena saya tidak menyangka dia punya kelebihan ini,” kata Irjen (Pol) Nunung.

Irjen (Pol) Nunung mengaku memiliki hubungan dekat dengan sang anak. “Jalu selalu ikut saya, kemana saya pergi selalu ikut. Saya berburu, mancing bahkan ziarah pun selalu ikut,” terangnya.
Jalu memulai melukis dalam 3 bulan terakhir, dan hanya dalam waktu singkat mampu merampung 22 lukisan dengan beragam tema, mulai dari Kata Kaya, Bouraq dan Malaikat, Naga Hijau, Aku, Istana Laut, Upacara Sekolah, Hari Akhir, Bintang Terang, Cinta Meledak, Bahagia, Bunga Taman Surga, Kun, Kangen, Panen Raya, Jago, Ibuku, Arsy, Cinta Meledak, Bintang Terang, Ayo Kerja, Gua Hira, dan Eyang Diponegero. Dari semua lukisan ini, Jalu mengakui yang menjadi favorit, adalah lukisan yang bertema Ibu dan (ayam) Jago. “Saat melukis tema ibu, ingat mama karena sayang mama,” kata Jalu. Jalu mengakui bahagia mengerjakan semua lukisan ini.
Saat karya lukisan Jalu ditampilkan ke publik di Hadiprana Gallery, Jalu mengaku senang dan tidak gugup. Bahkan saat proses melukis pun tidak ada kendala yang berarti. “Semua dilakukan pelan-pelan,” kata Jalu. Ide tema lukisan maupun pemilihan warna, semuanya Jalu yang menentukan. Salah satu warna yang mendominasi dalam lukisan Jalu adalah warna hijau, ini karena warna favorit sang ibu.
Irjen (Pol) Nunung mengaku berdasarkan pengalaman bersama sang anak menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan keluarga. “Apapun yang terjadi dengan kita, semua selalu ada hikmahnya. Di balik kekurangan selalu ada kelebihan. Dan ingat, nasib atau takdir kita, tidak tergantung dengan orang lain,” ucapnya.

Tak hanya sang ayah yang terkejut dengan kemampuan sang anak, hal ini juga dikatakan oleh sang ibu, Novi Nunung Syaifuddin. “Saya sebenarnya kaget melihat potensinya. Karena selama ini, hobinya lebih ke games. Dengan kita alihkan ke melukis ini, ternyata ada potensi. Jadi saya minta tolong Mas Leo untuk gali terus, apakah memang dia bisa. Ternyata dia enjoy. Kalau anaknya enjoy berarti bisa dikembangkan. Kalau dia nggak suka, kita nggak memaksakan. Alhamdulillah beberapa bulan terakhir saya lihat ada kemajuan. Jadi diteruskan saja, dan ternyata dia memang senang,” ceritanya.
Novi mengaku bersyukur karena Jalu diarahkan oleh Leonardo A. Putong, mentor sekaligus Exhibition Director Adikarya Vanindra “Mentornya Mas Leo yang mengarahkan. Jalu ini anak istimewa, ketika dia mau maka akan dilakukan. Tapi kalau tiba -tiba berhenti, dan kita nggak bisa apa-apa,” terangnya.
Namun, Novi melihat dalam tiga bulan terakhir, Jalu sangat menikmati melukis. “Saya juga nggak mengira kalau dia ada bakat, tapi memang dari keluarga kami banyak yang suka melukis. Mungkin selama ini belum tergali. Alhamdulillah Jalu menemukan bakatnya dan dia enjoy, jadi kita dukung,” ucapnya.
Meski telah menggelar pameran tunggal karya perdananya, namun Novi mengaku tidak memberi target pada anaknya. “Saya nggak ada target apa-apa buat dia, yang penting dia senang termasuk untuk meningkatkan percaya dirinya dalam menghadapi banyak orang,” jelasnya.
Bakat Jalu yang ditemukan di usia 20 tahun, membuat Novi tidak memiliki harapan yang muluk bagi sang anak. “Saya anggap melukis jadi jalan refreshing untuk Jalu. Mungkin selama ini dia sekolah, pikirannya banyak ke pelajaran. Jadi dengan melukis, dia sedikit bisa refreshing. Saya bilang kalau lukis buat hobi saja. Kalau memang nanti akan lebih bagus lagi, berarti itu anugerah, kita bersyukur saja, terus ditingkatkan, latihan terus,” ungkap Novi. “Ternyata dibalik kekurangan, ada kelebihan. Ini kita syukuri saja, mudah-mudahan bisa jadi motivasi Jalu untuk berkembang,” sambungnya.
“Awalnya saya hanya ingin memperluas wawasan Mas Jalu lewat storytelling, game edukatif, dan pengenalan AI. Saat membawa sketchbook, bakat gambarnya langsung terlihat, dan saya melaporkannya kepada Ibu Novi yang memberi dukungan penuh. Sejak itu saya hanya mendampingi: menyiapkan alat, menuang cat ‘sedikit saja, Pak Guru’, serta menyimpan karya ketika Mas Jalu berkata ‘cukup’ atau ‘tunggu kering’. Selebihnya—warna, sapuan kuas, dan seluruh proses kreatif—murni datang dari Mas Jalu. Sebagai tutor dan life coach, saya bersyukur menyaksikan bakatnya tumbuh dan bangga melihat keberaniannya tampil dalam wawancara dan pameran perdananya,” cerita Leonardo A. Putong.
Puri Hadiprana, pemilik dan generasi kedua Hadiprana Gallery mengucapkan selamat atas digelarnya pameran tunggal Adikarya Vanindra. “Saya ucapkan selamat kepada Vanindra, kamu didukung luar biasa oleh keluarga dan lukisan yang dibuat sangat amazing,” ungkapnya.
Senada, Johanda sebagai Kepala Hadiprana Gallery menyetujui karya Vanindra dipamerkan, karena kualitasnya sudah seperti seniman besar yang pernah melakukan pameran di sini. Sebut saja Nisan Kristiyanto, Mulyadi W, Widayat, Srihadi Sudarsono, Sunaryo, Jeihan, AD Pirous Ahmad Sadali, Bagong Kussudiardjo, Nyoman Gunarsa, Danarto hingga Afandi.
Hadiprana Gallery adalah galeri seni pertama di Jakarta dan Indoensia serta diresmikan oleh Presiden RI pertama, Ir Sukarno.
Pameran tunggal Adikarya Vanindra berlangsung dari 23-26 November 2025 di Hadiprana Gallery, Kemang, Jakarta Selatan. “Semua karya Vanindra hanya untuk dilihat, tidak diperjualbelikan,” kata Leonardo A. Putong.







