Dorong Ustadzah Jadi “Kader Peduli Kaki” Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja Gelar Pelatihan Merawat Kaki

oleh -67 Dilihat
Tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja bersama para Ustadzah BKPRMI OKU Pelatihan Perawatan Kaki. Foto dokumen Prodi Keperawatan Baturaja
Tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja bersama para Ustadzah BKPRMI OKU Pelatihan Perawatan Kaki. Foto dokumen Prodi Keperawatan Baturaja

Kanalberita.id, Baturaja—Untuk menjaga kesehatan  khususnya menjaga  sirkulasi dan kesehatan ekstremitas bawah (perawatan kaki), Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja menggelaar Pelatihan para ustadzah untuk  menjadi “Kader Peduli Kaki”.

Informasi ini disampaikan Ketua Tim Pengabdi kepada masyarakat  , Ni Ketut Sujati, SST, M.Kes kepada awak media Kamis (8/10/2026). Menurut Ni Ketut sujati, tim dosen dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Palembang Program Studi Keperawatan Baturaja menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertajuk “Pelatihan Perawatan Sirkulasi Menanamkan Kebiasaan Perawatan Kaki Klien Neuropati Diabetik“.

Program edukasi kesehatan   berlangsung dari  bulan Mei hinggaAgustus 2026. Kegiatan pengabdian  ini secara khusus menggandeng para pengajar atau Ustadzah yang bernaung di bawah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Kegiatan pengabdian kepada msyarakat  dengan Ketua Tim Pengabdi, Ni Ketut Sujati, SST, M.Kes, bersama anggota peneliti (Lisdahayati, SKM.MPH dan Suryanda, S.Pd, M.Kes) beserta enam mahasiswa pendamping.

Baca Juga :  Dibawah Kepemimpinan Teddy, OKU Raih 3 Penghargaan TOP BUMD Award
Penyampaian materi edukasi pentingnya deteksi dini perawatan kaki diabetik berbasis Efikasi Diri
Penyampaian materi edukasi pentingnya deteksi dini perawatan kaki diabetik berbasis Efikasi Diri

Dikatakan Ni Ketut, merawat kaki  menjadi kunci penting bagi penderita diabetes melitus guna mencegah komplikasi serius. Menyoroti tingginya  keluhan neuropati—seperti kesemutan, kebas, dan rasa terbakar pada telapak kaki—yang dialami para tenaga pengajar agama di Kabupaten OKU. Berdasarkan analisis pra-intervensi, sebanyak 26 persen  dari pengajar yang mengalami ketidakstabilan kadar gula darah, memiliki skore risiko sedang pada kaki, seperti : kesemutan, tumit pecah-pecah, kelainan kuku, dan cara memotong kuku kaki yang salah. Kebiasaan duduk bersila atau bersimpuh di lantai secara statis saat mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) memberikan tekanan ekstra pada saraf tungkai dan menyumbat sirkulasi vena. “Jika dibiarkan, luka sekecil apa pun di telapak kaki berisiko memicu ulkus yang bisa berujung pada amputasi,” urai   Ni Ketut .

Baca Juga :  Wakil Gubernur Sultra Apresiasi dan Support Penuh Program Strategis Kementan Serta Penyuluh Pertanian
Ustadzah menggunakan panduan visual dan log book untuk menerapkan langkah-langkah perawatan kaki harian.
Ustadzah menggunakan panduan visual dan log book untuk menerapkan langkah-langkah perawatan kaki harian.

Dihadapan peserta pelatihan,  tim memaparkan  teori  dan langsung mempratekan agar peseta benar-benar paham.  Pelatihan dengan  menerapkan pendekatan Self-Efficacy Theory atau membangun keyakinan diri pasien mengajak  para Ustadzah  terlibat secara aktif melakukan berbagai praktik pencegahan. Tercatat 30 partisipan berisiko tinggi dan sedang yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian kelas. Pada pertemuan intensif tersebut, partisipan dibimbing untuk melakukan screening sensitivitas kaki dengan instrumen monofilamen, praktik SPA kaki terapeutik yang aman tanpa risiko luka bakar. Senam kaki diabetik untuk merangsang kelancaran aliran darah, hingga cara tepat memotong kuku. Menariknya, program inovatif ini juga melakukan kompromi kultural untuk menjamin kepatuhan medis. Selama ini, para pengajar sering kali menolak menggunakan alas kaki di dalam lingkungan TPA atau masjid karena alasan menjaga kebersihan dari najis.

Pemeriksaan neuropati sensori dan keterampilan memotong kuku dipandu oleh mahasiswa keperawatan Poltekkes Palembang.
Pemeriksaan neuropati sensori dan keterampilan memotong kuku dipandu oleh mahasiswa keperawatan Poltekkes Palembang.

Merespon resistensi budaya itu, tim menyiapkan solusi dengan  membagikan alas kaki khusus (kaos kaki spons empuk) baru yang disucikan dan khusus diperuntukkan untuk penggunaan di dalam ruangan (masjid/rumah). Bagi kelompok lansia (di atas 65 tahun) atau yang memiliki keterbatasan postur untuk membungkuk, tim pengabdi memberikan instrumen cermin bergagang untuk mempermudah inspeksi telapak kaki harian secara mandiri.

Baca Juga :  Ribuan Umat Islam di OKU Pawai Tahun Baru Keliling Kota Baturaja

Dikatakan Ni Ketut, keberhasilan program ini juga tidak luput dari dukungan penuh Ketua LPPKM BKPRMI OKU. Sebagai bentuk keberlanjutan program (sustainabilitas), Poltekkes Palembang secara resmi mencanangkan pelembagaan “Unit Telenursing Akar Rumput” melalui media digital interaktif, sekaligus mencetak para Ustadzah menjadi “Kader Peduli Kaki”. Diharapkan dengan adanya kaderisasi ini, Ustadzah BKPRMI yang lulus dapat mengestafetkan keterampilan penting ini keustadz dan ustadzah lainnya demi kehidupan penderita diabetes yang produktif dan bebas dari komplikasi kaki.  (edo/ca)

No More Posts Available.

No more pages to load.