Kanalberita.id, Baturaja—Untuk menjaga kesehatan khususnya menjaga sirkulasi dan kesehatan ekstremitas bawah (perawatan kaki), Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang Prodi Keperawatan Baturaja menggelaar Pelatihan para ustadzah untuk menjadi “Kader Peduli Kaki”.

Informasi ini disampaikan Ketua Tim Pengabdi kepada masyarakat , Ni Ketut Sujati, SST, M.Kes kepada awak media Kamis (8/10/2026). Menurut Ni Ketut sujati, tim dosen dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Palembang Program Studi Keperawatan Baturaja menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertajuk “Pelatihan Perawatan Sirkulasi Menanamkan Kebiasaan Perawatan Kaki Klien Neuropati Diabetik“.

Program edukasi kesehatan berlangsung dari bulan Mei hinggaAgustus 2026. Kegiatan pengabdian ini secara khusus menggandeng para pengajar atau Ustadzah yang bernaung di bawah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Kegiatan pengabdian kepada msyarakat dengan Ketua Tim Pengabdi, Ni Ketut Sujati, SST, M.Kes, bersama anggota peneliti (Lisdahayati, SKM.MPH dan Suryanda, S.Pd, M.Kes) beserta enam mahasiswa pendamping.

Dikatakan Ni Ketut, merawat kaki menjadi kunci penting bagi penderita diabetes melitus guna mencegah komplikasi serius. Menyoroti tingginya keluhan neuropati—seperti kesemutan, kebas, dan rasa terbakar pada telapak kaki—yang dialami para tenaga pengajar agama di Kabupaten OKU. Berdasarkan analisis pra-intervensi, sebanyak 26 persen dari pengajar yang mengalami ketidakstabilan kadar gula darah, memiliki skore risiko sedang pada kaki, seperti : kesemutan, tumit pecah-pecah, kelainan kuku, dan cara memotong kuku kaki yang salah. Kebiasaan duduk bersila atau bersimpuh di lantai secara statis saat mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) memberikan tekanan ekstra pada saraf tungkai dan menyumbat sirkulasi vena. “Jika dibiarkan, luka sekecil apa pun di telapak kaki berisiko memicu ulkus yang bisa berujung pada amputasi,” urai Ni Ketut .

Dihadapan peserta pelatihan, tim memaparkan teori dan langsung mempratekan agar peseta benar-benar paham. Pelatihan dengan menerapkan pendekatan Self-Efficacy Theory atau membangun keyakinan diri pasien mengajak para Ustadzah terlibat secara aktif melakukan berbagai praktik pencegahan. Tercatat 30 partisipan berisiko tinggi dan sedang yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian kelas. Pada pertemuan intensif tersebut, partisipan dibimbing untuk melakukan screening sensitivitas kaki dengan instrumen monofilamen, praktik SPA kaki terapeutik yang aman tanpa risiko luka bakar. Senam kaki diabetik untuk merangsang kelancaran aliran darah, hingga cara tepat memotong kuku. Menariknya, program inovatif ini juga melakukan kompromi kultural untuk menjamin kepatuhan medis. Selama ini, para pengajar sering kali menolak menggunakan alas kaki di dalam lingkungan TPA atau masjid karena alasan menjaga kebersihan dari najis.

Merespon resistensi budaya itu, tim menyiapkan solusi dengan membagikan alas kaki khusus (kaos kaki spons empuk) baru yang disucikan dan khusus diperuntukkan untuk penggunaan di dalam ruangan (masjid/rumah). Bagi kelompok lansia (di atas 65 tahun) atau yang memiliki keterbatasan postur untuk membungkuk, tim pengabdi memberikan instrumen cermin bergagang untuk mempermudah inspeksi telapak kaki harian secara mandiri.

Dikatakan Ni Ketut, keberhasilan program ini juga tidak luput dari dukungan penuh Ketua LPPKM BKPRMI OKU. Sebagai bentuk keberlanjutan program (sustainabilitas), Poltekkes Palembang secara resmi mencanangkan pelembagaan “Unit Telenursing Akar Rumput” melalui media digital interaktif, sekaligus mencetak para Ustadzah menjadi “Kader Peduli Kaki”. Diharapkan dengan adanya kaderisasi ini, Ustadzah BKPRMI yang lulus dapat mengestafetkan keterampilan penting ini keustadz dan ustadzah lainnya demi kehidupan penderita diabetes yang produktif dan bebas dari komplikasi kaki. (edo/ca)






