Di Tangan Lembut Suhartini Buah Pinang Sukses Mengangkat Harkat Perempuan

oleh -46 Dilihat
Suhartini (45) bersama Pertamina EP Pendopo Field dorong pemberdayaan perempuan di Desa Sukakarya, Musi Rawas melalui pengolahan Pinang menjadi produk bernilai ekonomi. Foto dokumen PHR Zona 4
Suhartini (45) bersama Pertamina EP Pendopo Field dorong pemberdayaan perempuan di Desa Sukakarya, Musi Rawas melalui pengolahan Pinang menjadi produk bernilai ekonomi. Foto dokumen PHR Zona 4

Kanalberita.id, Baturaja— Di tangan lembut Suhartini (45) buah pinang  sukses  mengangkat harkat perempuan menjadi berpenghasilan dan mandiri. Perempuan Desa  Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan berhasil menghapus labeling yang selama ini tertanam di benak masyarakat bahwa lemah dan tidak berdaya.

Bak gayung bersambut, sosok wanita memiliki tekad ingin  maju bertemu dengan Perwakilan dari PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Jalan menuju suksespun terbuka, Pada 2021 meluncurkan program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG).  Di Desa Sukakarya berjarak 21 kilometer dari pusat Musi Rawas. Desa kecil dengan 1.842 penduduk usia produktif, namun hampir separuhnya, 847 orang, tidak bekerja. Dari jumlah itu, 584 orang adalah perempuan. Rentan, berpendidikan rendah, sebagian menikah dini, sebagian terpaksa merantau menjadi pekerja migran.

Kesempatan emas ini langsung ditangkap oleh Suhartini, perempuan hebat dari Desa Sukakarya ini mengikuti pelatihan tahun 2018 yang diselenggarakan  PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Selama mengikuti mengikuti pelatihan suahrtini dan Ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani)  “Melati” mendapat pelatihan teknis budidaya, pengolahan pascapanen, hingga diversifikasi produk. Pendampingan yang tidak hanya soal bertanam, tapi bagaimana pinang bisa bernilai.Pulang dari pelatihan

Baca Juga :  Usai Sertijab, Prof Ida Umami Siap Membawa IAIN Metro Mercusuar Keilmuan di Tingkat Nasional dan Internasional

Suhartini pulang bukan hanya membawa sertifikat tapi juga mebawa telad bulat ingin mengubah nasib kaum perempuan di desanya menajdi wanita  mandiri dan berpenghasilan.

Bagi Suhartini pinang bukan sekadar buah yang jatuh di kebun. buah pinang yang melinpah dan nyaris tidak dimanfaatkan di Desa Sukakarya salah satu jalan menuju sukses,  Tekad suahrtini sudah bulat,  perempuan Sukakarya harus punya penghasilan sendiri. Selanjutnya Suhartini mengumpulkan 15 ibu-ibu dan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati. Dengan patungan Rp 10 ribu per orang. KWT lalu  menanam 3.000 bibit jahe di polybag. Pilihan yang sengaja diambil karena Sukakarya kerap dilanda banjir. Jahe itu kemudian diolah menjadi bandrek cukup laku. Suhartini  usaha KWT ini bisa lebih  besar dari sekadar  wedang jahe. Jawabannya ada di depan mata,  pohon pinang berbuah lebat  harus dikelola menjadi produk yang bernilai ekonomis tinggi.

Selama ini buah  dijual  ke tengkulak  hanya Rp4.000 per kilogram, padahal harga pasar global mencapai Rp19 ribu per kilogram. Karena tak menguntungkan, pohon pinang bahkan ditebang dan dijual untuk lomba panjat pinang setiap 17 Agustusan. Berbekeal pengetahuan yang diperoleh setelah mengikuti pelatihan, Suhartini merebuit peluang bisnis yang menjanjikan,

Baca Juga :  PHR Zona 4 Ajak Anak Yatim Prabumulih Pilih Baju Lebaran Impian

Kini KWT Sukakarya sudah memilik 15 hektare kebun pinang dengan produksi 900 kilogram pinang kering dan 200-300 kilogram pinang muda per bulan. Buah pinang ini diolah menjadi kopi pinang, bandrek pinang, dan permen pinang. Bahkan daunnya pun tak terbuang, disulap menjadi pewarna eco-print. Momentum pandemi Covid-19 menjadi berkah. Ketika konsumsi minuman herbal melonjak, racikan jahe dan pinang buatan Suhartini laris ke berbagai daerah.

Dampak ekonominya terasa, KWT Melati yang dulu beranggotakan 12 orang, kini sduah bertambah menjadi  30 orang. Keuntungan bersihnya sekitar Rp 8 juta per bulan. Setiap anggota yang terlibat produksi diupah Rp12.500 per kilogram. Kas kelompok pun bisa dipinjam untuk biaya sekolah anak hingga hajatan keluarga. “Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga dan desa melalui kemampuan kami mengolah potensi pinang,” ucap Suhartin dengan nada bangga.

Kiprah Suhartini membawa KWT Melati naik kelas. Dari pameran tingkat kabupaten, provinsi, hingga undangan pameran UMKM tingkat nasional dan internasional. Sukses Suhartini mendapat pengakuan dan  dinobatkan sebagai penerima penghargaan “Local Heroes Inspiration Award 2024” oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun Suhartini tak mau sukses sendirian. Ia aktif melatih perempuan-perempuan muda di desanya, bahkan berbagi ilmu ke kelompok perempuan lain di Musi Rawas dan sekitarnya. “Saya ingin semua perempuan percaya bahwa perempuan bukan kelas kedua. Kami perempuan dan kami bisa memberi dampak baik bagi sekitar,” ujar Suhartini.

Baca Juga :  Pertamina EP Prabumulih Field Kampanyekan Program MUDA BERSAMA

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, menyebut ketekunan Suhartini menjadi bukti perempuan bisa memimpin kemajuan jika diberi ruang yang setara. “PEP Pendopo Field dan PHR berkomitmen untuk terus menciptakan ruang-ruang kesetaraan tersebut melalui program CID seperti GEMILANG agar lahir Suhartini-Suhartini lainnya,” kata Iwan.

Untuk diketahui, PHR Zona 4 merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional Sumatra di bawah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Zona 4 mengoperasikan tujuh wilayah kerja: PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai. Wilayah kerjanya tersebar di dua kota, Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten: Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan OKU, di bawah koordinasi dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). (Eduar Syamsuri)

No More Posts Available.

No more pages to load.