Kanalberita.id, Baturaja—Jika sore menjelang di Desa Makartitama, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten OKU, embung seluas 2.000 meter persegi itu tak lagi sepi. Lampu-lampu dari panel surya mulai menyala. Di tepiannya, warga melempar kail, anak-anak tertawa, dan gemericik aerator kolam bersahutan dengan suara jangkrik.

Sebelum mendapat sentuhan dari Pertamina Hulu Energi (PHE) Ogan Komering Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, Embung peninggalan itu hanya menjadi penampung air untuk sawah. Saat kemarau, debitnya menyusut. Fungsinya jalan, tapi potensinya tidur. Sampai seorang petani bernama Erliyanto (48) resah. “Kalau desa punya potensi sebesar ini, kenapa tidak kita hidupkan bersama-sama. Saya ingin embung ini bukan hanya bermanfaat untuk hari ini, tapi juga untuk ke depan,” kata Erliyanto dengan nada optimis.
Beranjak dari keresahan itulah ide sederhana muncul, untuk mengembangkan embung agar memiliki manfaat luas dengan ditebar ikan Lele, patin, nila. Ikan yang mudah hidup dan laku di pasar dan memiliki nilai ekonomi.. Ide itu menemukan jalannya pada 2024, berkat Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina Hulu Energi (PHE) Ogan Komering Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 yang sudah mendampingi Desa Makartitama sejak 2022.

PHE Ogan Komering tidak datang hanya membawa bantuan fisik. Perwakilan dari PHE Ogan Komering rela melaungkan waktu duduk bersama kelompok tani, melatih cara budidaya ikan, manajemen kelompok, hingga mencarikan solusi pemasaran . Perlahan namun pasti, embung yang dulu hanya mengairi sawah itu berkembang. Ikan yang ditebar sudha mulai dipanen, Embung Desa Makartitama kini sudah menjadi terkenal bukan hanya tempat mengail ikan namun usaha ini kini mnejadi alternatif beriwisata bagi penduduk sekitar, ide sederhana dari Erliyanto muliy efek kini bisa dinikmati warga.
Embung Makartitama kini menjadi kolam pemancingan. warga dari desa tetangga datang di akhir pekan, membayar tiket, memancing, dan membawa pulang ikan segar. Di baliknya, ada inovasi kecil yang berdampak besar: kelompok tani membuat pakan sendiri dari maggot. Lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrik. Hasilnya nyata. Dari pinggiran embung, kelompok Erliyanto kini mengantongi omzet hingga Rp25 juta per bulan. Sebagian disisihkan kembali untuk kas desa. Gotong royong yang dulu sekadar slogan, kini berbentuk angka kontribusi. “Kami snagat beryukur dari embung ini sudah memberi kontirbusi untuk pendap[atan desa’ Ujar Erliyanto dengan nada bangga.
Agar roda itu terus berputar, PHE Ogan Komering memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 10 kWh tepat di area embung. Siang menyimpan cahaya, malam menerangi kolam. Listrik surya itu menghidupkan pompa air, aerator, lampu, hingga pendingin ikan, sekaligus memangkas biaya operasional Rp850 ribu hingga Rp1,5 juta setiap bulan. “Ini bukan sekadar proyek, tapi tentang bagaimana masyarakat bisa berdiri sendiri,” ujar Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4 menyebut, program ini ditargetkan mencapai tahap exit program pada akhir 2026. Artinya, warga Makartitama diharapkan sudah mampu mengelola embung secara mandiri, tanpa lagi bergantung pada pendampingan perusahaan. Dari embung yang sempat terlupakan, Makartitama kini belajar satu hal: harapan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ide sederhana bisa memuwjudkan mimpi besar asalkan ditekenuni , dan dengan penuh keihlasan maka alampun akan membalasnya. Setiap dore Erliyanto terseyum bahagia menyaksikan warga melepmar pelampung pancing yang bergerak ditarik ikan. “ Ini bukan hanya berbicara soal ikan yang mengail umpan, tapi juga menyaksikan masa depan masyarakat Desa Makartitama yang berubah “ Kata Erliyanto dengan nada bangga. (Eduar Syamsuri)





